Thursday, August 4, 2011

Serupa tapi tak Sama


Pagar tak berpohon apalagi yang besi adalah tempat favorit
untuk menyandarkan sepeda terus menggemboknya, 
dengan harapan para penggemar sepeda tak mampu menggondolnya.



Namun persoalannya kalau si pencuri sendiri yag melalukannya itu, 
tanda sial bagi empunya sepeda, dia musti repot sendiri.
tak ada yang mau mengerti, akhirnya sepeda itu pun dilupakan
begitu saja!
kalau yang telah rela menyisihkan gajinya untuk memberi keuntungan
para pedagang saja sudah tak ambil pusing
apalagi
para pencuri, kleptorer, maling, orang biasa
yang iseng-iseng dengan sengaja mencangkingnya dari mana saja
kepunyaan siapa saja yang kebetulan lengah tak terkunci 
atau memang kunci gembok yang kurang mutakhir
Nah ya..
eling lan waspodo
kapan pun dan di mana pun
itu saja.

Tuesday, August 2, 2011

Entah!

entah kenapa?
nggak semua body dimanfaatkan..
atau inikah yang dinamakan 
Maling mencicil
atau 
gara-gara penggoesnya pecicilan?
yang jelas sadel dan roda depan telah berpindah kelain body
ups! stang-nya juga di ciak!
sebentar lagi standarnya
siapa mau silahkan cek di daerah schwabing
kawasan elit di kota munich
kalau belum diangkut orang yang berpura-pura pemulung
cek des!

Wednesday, March 9, 2011

Habis Manis Sepah Dibuang!

Akulah yang pertama kali mengantarmu keliling taman
menikmati udara segar dan pemandangan
melatih otot betis sepanjang kayuhan
tubuh jadi fit dan para penyakit tak mempan menyerang
meskipun aku harus sering dilap sayang
supaya kotoran debu dan penampilan tetap tampan
tapi apa arti awak kemudian
setelah kamu bosan
tak ada lagi perhatian apalagi dimandikan
aku pun protes dengan harapan
akan dirawat seperti tahun-tahun silam
debu menumpuk karat menggerogoti pelan-pelan
aku tak bisa lagi berfungsi sesuai angan-angan
apalagi setelah kamu mabuk membawaku masuk selokan
kamu tinggalkan begitu saja, dasar bajingan!

Sunday, March 6, 2011

Kalah Bersaing!

Kembali ke masa lalu,
ketika aku masih lebih sering cokoran, tanpa sepatu berangkat ke sekolah dasar yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Seperti biasa, berangkat ramai-ramai dengan teman sekampung seperjuangan sambil mencoba mengukur bayangan tubuh sendiri yang tertimpa sinar matahari pagi dengan langkah kaki sendiri, absurd!.

Saat itu naik sepeda pun merupakan kemewahan! Jalanan penuh dengan pejalan kaki, terutama yang beraktifitas pada pagi hari, pedagang pasar, kuli, timer, tukang parkir, penjaga sekolah alias tukang kebun, sopir, kernet, penjual bubur, penjual jamu, guru sampai orang kantoran.
Sekolah dimulai jam 7 pagi.
Setiap senin upacara bendera merah putih sudah pasti!
Selasa rabu kamis dan sabtu sebelum masuk kelas senam pagi Indonesia.
Cuma hari jumat sedikit berbeda gerakan dan musiknya, SKJ: senam kesegaran jasmani.
So.. sebelum masuk kelas fisik telah bugar dan fit, siap menampung berondongan ilmu dari para pahlawan tanpa tanda jasa. Sekarang aku jadi berpikir lagi, apakah kegiatan bersenam pagi itu sekedar untuk kesehatan atau memberi kesempatan pada yang telat bangun pagi, karena tak jarang peserta senam pagi itu terlihat masih menyanding tas di samping kaki.

Kalau pada pagi hari itu matahari telah begitu terik walaupun penanda waktu tetap sama saja, suasana kelas sedikit aneh karena aroma keringat menguasai udara yang lembab dalam ruangan, harum amoniak sehabis senam pagi itu seolah tak mau keluar dari 4 jendela kawat jaring yang besar di kanan dan kiri dinding ruangan. Jadi selain mendapat ilmu yang berguna di masa depan kita juga semakin kenal dengan bau-bauan teman sekelas.

Pukul 12.45 adalah jam pulang anak kelas 4 ke atas. Kelas 3 ke bawah boleh pulang lebih pagi.
Pada jam pulang sekolah itu jalanan kembali gegap gempita!. Kali ini berbarengan dengan jam pulang madrasah tsanawiyah yang baru didirikan tak jauh dari SD tempat aku pertama kali mereguk nikmatnya ilmu dasar itu, namun sekolah yang lebih sering disebut MTs itu langsung mendapatkan siswa yang luar biasa banyaknya, entah kenapa aku tak tahu.

Selain banyak yang berjalan kaki, murid MTs yang bersepeda ria tak sedikit pula.
Ada yang sangat menarik perhatian kami dari riuhnya sepeda yang baru saja keluar dari gerbang sekolah, yang setara dengan SLTP itu, adalah seorang murid yang mengayuh sepeda dengan stang dari bambu!! alias lurus dan hijau warnanya.. Sebuah ide yang mungkin saja mengilhami para desainer pit onthel jaman itu. Karena tak lama kemudian heboh di pasaran sepeda, merk federal!! Semua orang, sepanjang ingatanku, bermimpi mempunyai sepeda federal yang ber-stang lurus itu, termasuk aku juga! namun sepeda ber-stang bambu hijau tetap menarik perhatian kami, entah karena iba atau takjub dengan penemuannya itu.

Sampai sekarang pun, ketika selera jaman telah berganti cuaca, aku belum pernah punya sepeda ber-stang lurus itu walaupun pernah menaikinya. Bahkan pernah Tour sepeda berkilo-kilometer bersama kawan-kawan STM ke Waduk Kedung Ombo pulang pergi!!

Jaman telah berubah, sepeda tak lagi menjadi impian lagi.
Model dan desain sepeda pun berkembang dengan pesatnya, namun tetap tak mampu bersaing dengan jenis kendaraan lain, yang tidak kepanasan kalau terik, tetap teduh kalau sedang hujan, tinggal isi bahan bakar, starter tancap gas, mainkan stir, berlari lebih cepat sampai tujuan!!
Kenangan akan bayangan diri dari sinar matahari pagi hari di jalanan aspal yang belum hotmik kala itu, tetap bersemayam dan kembali segar lagi jika mendengar lagu populer kala itu, Jamilah-nya jamal mirdad, yang sempat dulu kami nyanyikan sepotong-potong, di sepanjang jalan menuju sekolah dengan seragam merah putih, ketika mobil yang lewat di jalan itu hanya colt tesen angkutan umum yang bisa dihitung dengan jari.

Tuesday, March 1, 2011

Tak Merdeka 100%

Suatu ketika aku harus mendatangi tempat itu, yang seumur-umur pun belum pernah aku membayangkan akan memasukinya, selain nggak penting, juga untuk apa?
Beberapa hari yang lampau, seorang teman sekolah mengundangku ikut merayakan pesta perpisahannya di tempat yang sebelumnya tidak ada dalam agenda resmiku ini.
Selesai sekolah meluncurlah aku dengan pelan menuju sasaran, karena waktu yang ditetapkan masih 1 jam ke depan. Ku habiskan waktuku dengan mengamati daerah sekitar tempat itu, jalan mondar-mandir apakah benar tempat itu yang di maksud.
Sebuah halaman luas dengan pohon-pohon besar rindang nian, tapi sementara ini tak berdaun, dan banyak meja panjang yang diatasnya ditumpuki kursi panjang juga yang terbalik, alias tidak sedang dalam tugas!
Ku lirik jam di handphone masih setengah jam lagi, aku duduk di kursi besi yang masih tersisa di depan bangunan itu, kebanyakan kursi-kursi itu untuk para perokok, ada meja juga, di atasnya beberapa asbak dengan abu tembakau yang tercecer di sekitarnya. Para perokok kalau mau membakar tembakaunya mulai beberapa minggu kemarin harus di luar bangunan itu, kalau tidak mau terkena denda yang tak sedikit.
Aku keluar lagi...
Di luar halaman berpagar besi yang tinggi, sebuah sepeda federal (istilah yang menandakan kalau stangnya lurus) sedang terikat rapi, seperti budak yang tak laku. Roda depannya seperti habis kecelakaan, tapi kenapa harus dirantai di situ?kenapa tidak langsung dimasukkan di tempat sampah kalau memang tak berguna lagi?
Mungkin empunya adalah pengunjung tempat itu, setelah selesai urusan, mau pulang ternyata tak bisa lurus lagi untuk kayuh pedal, terperosok atau terjungkal lah pemilik sepeda itu sebelum jauh meninggalkan tempat itu. Tak lama setelah ada orang yang baik hati atau teman empunya federal menelpon ambulans dan membawanya ke rumah sakit terdekat, sepeda federal yang baru merasakan kebebasan sebentar, kembali disangkutkan di pagar seperti sebelum sang pemilik memasuki tempat itu, apalagi memang tak bisa buat jalan.
Setelah kembali sepi, sepeda itu rupanya ingin jalan-jalan seperti yang lainnya agar tak beku sendirian, tapi apa daya roda terantai. Sampai akhirnya si sadel saja yang berhasil bebas. Proses kemerdekaan yang tak sulit, hanya mengendorkan baut dan sekrup sedikit saja, kemudian memutarnya ke arah atas.. tuntas, walau pun tak merdeka 100%, dengan kata lain cuma 5 persen kira-kira dari keseluruhan, si sepeda federal tentunya gembira apalagi yang telah berani memerdekakannya...

Sementara nasibku masih terikat dengan waktu yang masih setengah jam lagi di tempat itu, tak bosan-bosannya ku melangkah keluar lagi, berjalan kesana kemari, menghalau udara dingin, mirip seterika otomatis!

Semende

Masih di pinggiran lapangan theresienwiese yang penuh dengan pohon-pohon dengan jalan berpaving de tengahnya untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. Di situ terdapat berbagai macam fasilitas bermain, mulai dari meja pingpong bagi yang suka olahraga, selain itu berlari mengelilingi lapangan juga boleh! sampai ada ayunan yang stabil, aman untuk anak-anak dan dewasa, juga terdapat kolam pasir, plorotan, mirip yang biasa terdapat di taman kanak-kanak. Selain itu tak terhitung banyaknya bangku dan meja permanen, yang biasa di pakai para pekerja kantoran di sekitar situ untuk istirahat menyantap menu siangnya dalam suasana sejuk segar di bawah rindangnya daun-daun, kalau tidak sedang musim gugur apalagi dingin!!

Kalau sedang musim panas bangku-bangku itu kadang menjadi tempat tidur para gelandangan, heh.. ada juga gelandangan di münchen?!. Biasanya para gelandangan itu adalah para peminum alkohol dan pengangguran. Mereka itu tidur di jalan, katanya sudah tidak mau lagi tinggal di rumah penampungan yang telah disediakan oleh pemerintah kota. Mungkin inilah juga salah satu sebab betapa repot pemerintah kita mengurus para Gepeng, lha di negara kita tak ada cuaca yang ekstrim! Ketika sedang dingin-dinginnya suhu musim dingin di eropa, tak jarang di sini terdengar berita tentang para gelandangan yang mati beku! ..banyak yang karena ketiduran di luar ketika terlalu mabuk tanpa selimut cukup memadai...hii..
Temperatur di tanah air rata-rata hanya 27 derajat celcius, adalah ideal untuk makhluk hidup! So.. kapan dan di mana saja orang bisa tidur dengan nyaman walau pun hanya di perko atau di kolong jembatan.
Singkat kata menjadi gelandangan selain karena masalah yang kompleks adalah juga sebuah pilihan. Jangan lupa ini jaman demokrasi bung..
Begitu juga yang mungkin terpikir oleh pemilik sepeda di atas, adalah haknya juga menaruh barangnya di sembarang tempat, kemudian melupakannya...

Sunday, February 27, 2011

Sisa-sisa pesta!

Pemandangan musim gugur, daun-daun menguning rontok meninggalkan batang pohon sendiri yang mengkerut menghitam di sekeliling lapangan itu menambah kelabu suasana mengahadapi kejamnya musim dingin. Setiap tahun selama 2 minggu sebelum bulan oktober di lapangan itu, Theresienwiese, kota münchen diadakan Oktober Fest, pesta bir dan pasar malam, lengkap dengan jinontrol, tong setan, arumanis, gula-gula dsb.
Tahun 2010 kemarin adalah tepat yang ke 200 kali acara itu di adakan! sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melegenda, di mana pada awalnya dulu adalah sebuah pesta perkawinan si anak kaisar, yang ketika itu bir dibagikan gratis, namanya aja pesta pora.
Namun sekarang siapa yang mau minum bir di oktober fest begitu namanya disebut selain wiesn istilah lainnya, harus siap-siap merogoh kocek yang cukup dalam. Katanya bir di acara itu berbeda dengan bir biasa, yang telah disiapkan khusus dengan kualitas terbaik dengan kandungan alkohol tinggi dan langsung dibeli di tenda-tenda permanen anjungan para pabrik bir!

Sebulan setelah acara, aku kebetulan lewat lagi lapangan itu terlihat orang-orang masih sibuk beres-beres, para pekerja seperti tak mau selesaikan tugasnya, padahal tiap hari dengan bantuan alat berat telah berusaha secepat mungkin..cak cak cak... kerjaan tak berkurang-kurang! Gilaa...acaranya cuma 2 minggu tapi secara keseluruhan 4 bulan diperlukan untuk siap-siap dan bongkar-bongkar bahkan mungkin lebih!!

Adalah kenangan memegang gelas bir 1 liter dan khasiat minuman itu langsung nendang kepala rasanya jika beberapa teguk saja melewati tenggorokan! kemudian para pelayan yang memakai baju tradisional driendl bertangan kuat kokoh yang mampu membawa sampai 12 gelas bir beserta isinya bahkan lebih! ada kontes khusus untuk itu... berlalu lalang di tengah riuhnya pesta pora, mabuk dan tak sadar diri merupakan pemandangan biasa, apalagi menginjak makanan yang telah mengasam yang barusan dimuntahkan di sekitar arena.. Untuk itu para petugas P3K dan kebersihan yang berseragam menyolok selalu siap sedia dengan armada ambulansnya!
Ingatan sisa-sisa pesta 2 minggu sebelum bulan oktober itu, terwakili secara gamblang pada nasib sepeda federal di pinggiran lapangan theresienwiese yang kembali sepi, setelah tiba-tiba 5 juta pengunjung pulang, telah puas bersumpah serapah dalam nyanyian tahun ini dan siap-siap kerja keras lagi, menabung untuk pesta pora tahun berikutnya!

Saturday, February 26, 2011

Kebelet!

Sebagai orang yang dibesarkan di kampung, aku sudah terbiasa harus jongkok kalau buang air besar. Sangatlah lumrah apalagi semasa kecil yang namanya kloset jongkok pun teramat sangat istimewa, jadi untuk bisa jongkok di atas toilet pun merasa lebih modern daripada yang lain. Sebagian besar penghuni kampung kecilku jaman dulu buang air besar masih di sungai yang berhulu di sebuah sumber air yang bernama Tegaron, terutama di pintu airnya langsung. Belik atau Blumbang yang dulu berair jernih itu letaknya di samping pesarean, berada di tengah 4 kampung dengan pohon yang sangatlah besar sebagai penjaga, sangat besar dan mengerikan dengan akar-akar semak belukar yang singup! apalagi untuk ukuran anak kecil, aku dan sebaya waktu itu.
Pekuburan di atas Tegaron itu di bagi 3 bagian untuk masing-masing kampung yang mengelilinginya. Tapi entah kenapa, ini yang nanti akan aku cari sebabnya, kampung di mana aku lahir, walaupun juga berbatasan dengan Pekuburan itu, punya lokasi pekuburan sendiri yang agak jauh, tidak ikut berbagi dengan pekuburan setempat.
Suatu ketika, aku belum sekolah atau awal sekolah dasar, ketika di depan pintu masuk kuburan bagian kampung lain di bangun atau tepatnya di taruh patung batu yang biasa sebagai penjaga candi, yaitu arca Gupala, suasana pekuburan yang seram semakin mengerikan saja untuk kami waktu itu, apalagi ketika ada yang bilang pada aku dan teman sebaya yang masih suka teriak-teriak ramai, bahwa kalau sedang di dekat patung itu tidak boleh ramai. Karena kalau patung Gupala tadi bisa mendengar suara kami, pasti akan tanpa ampun menggunakan senjata pentungan Gadha yang selalu disandangnya, untuk mendiamkan kami selamanya....hiii makin ngeri lagi jika melihat putih kapur pada mata yang melotot, kontras dengan warna hitam legam material patung itu. Itu pun masih dibumbui dengan semerbak harumnya mawar, yang setiap malam jumat kliwon selalu fresh! entah siapa yang taruh bunga sialan itu, aku pun tak berani tanya-tanya lagi alias selalu waspada menjaga mulut kecil bawel yang sembrono jika berada di tempat biasa.
Selain cerita tentang kakek buyutku yang meninggal tenggelam atau menenggelamkan diri(?) di Blumbang Tegaron itu, masih banyak sekali cerita mistis yang beredar dan masuk telingaku, tak aral segera saja memancing rajutan fantasi di otak kecilku waktu itu.
Ah ..singkat kata, jika berada di tempat itu, tempat yang setiap pagi selalu ramai orang antri mau pakai kakus pintu air yang mengalir deras melalu lobang-lobang kecil saringan agar ganggang dan ikan dan ikut terbawa arus, tempat yang berpohon rindang, udara dingin semilir dengan sedikit pedut/kabut sisa dini hari, yang kalau siang menjelang sore sepi adalah antara penuh tanya, takut, belajar sabar, dan bahagia!
Sangat senang alang kepalang, apalagi jika sedang menunggu suara Dul!
Adalah tembakan petasan dari mesjid raya di kota yang menandakan waktu berbuka puasa! Asap hitam yang mengepul membumbung di atas horison hijau pudar pohon-pohon, yang disaksikan oleh orang-orang dewasa, karena sampai sekarang pun aku belum bisa yakin, apakah dulu aku pernah lihat tanda Dul itu atau pula telah mendengarnya.. Yang pasti aku pun ikut berteriak senang, berlari menuju rumah, menyambut menu buka puasa, ketika para orang dewasa berseru-seru sambil menunjuk-nunjuk ke arah kota, seolah mendengar dan melihat tanda Dul itu..
Lari untuk mengisi perut sangat berbeda dengan yang diceritakan foto diatas!
Si pengendara mobil tampak buru-buru, karena kalau tak segera bisa-bisa di celana!
Orang itu mau tidak mau harus mencari toilet khusus, yang sangat jauuuh, yang nanti bisa dijongkoki atau minimal ada air untuk membasuh anus setelah selesai berhajat. Untuk orang lebih modern kayuhan pedal pun tak memenuhi syarat lagi untuk dapat dengan segera mencapai tempat yang diimpikan, so alhasil sepeda onthelnya ditinggal sendirian. Naik mesin tinggal injak gas, dua tiga kilometer terlampaui dengan menyisakan kebulan asap di belakang, tak urusan!.
Dasar orang kampung!
Mungkin begitu pikir orang-orang yang paling modern, yang telah terbiasa duduk santai sambil baca-baca kalau sedang buang air besar, tak perlu air, hanya dengan gulungan kertas toilet putih lembut bertumpuk-tumpuk, yang dengan setia menunggu untuk disobek dan dihancurkan di dalam kloset. Asal tahu saja kertas toilet itu sebagian besar dari pembabatan hutan negara tropis!
Huh...!! Biar primitiv asal umweltfreundlich, pikirku.

Monday, February 21, 2011

Ada gula ada semut..


Di stasiun atau halte-halte angkutan umum selalu tersedia tempat parkir sepeda tanpa penjaga dan karcisnya, pengendara sepeda harus dengan mandiri, mengunci gembok seaman-amannya, kalau tidak resiko tanggung sendiri. Di tempat-tempat parkir itu tak jarang banyak sepeda yang tak terurus sampai karatan bahkan ada yang sudah tak berbentuk sepeda lagi padahal masih terantai dengan nyamannya. Deretan sepeda yang mengerumuni halte-halte atau stasiun itu mengingatkanku pada peribahasa yang ku jadikan judul tulisan ini.
Selama di Jerman, aku baru pertama kali lihat makhluk yang namanya semut, itu pun di dalam kandang, kotak kaca di kebun binatang. Boks itu mirip akuarium ditempel di dinding dengan liku-liku rumah semut, yang dibuat mirip dengan aslinya. Orang sini sepertinya tidak bisa membayangkan betapa repotnya punya semut dalam kehidupan sehari-hari, mereka memandangi dengan takjub binatang sosial yang menyebalkan sekali! apalagi kalau kita sedang dikaruniai gigitan semut geni alias api!... wah racunnya tak jauh dari racun kalajengking!!

Sifat gotong-royong binatang inilah yang membuat kita pun tak pelak mengagumi binatang ini, ...dulu waktu SD, aku dan kawan-kawan menamai kelompok kami dalam kegiatan pramuka setiap jumat sore dengan Kelompok Semut dan beruntung ada yang jual benderanya.
Selama di sini pula aku belum merasakan dan menemui sifat yang dicontohkan binatang dalam kotak kaca itu pada manusianya. Mungkin dulu pernah ada semut di sini, tapi kemudian hijrah ke selatan menumpang kapal-kapal pedagang rempah-rempah dan tak pernah pergi lagi, di sebuah lingkungan yang tampaknya lebih mampu menggali nilai-nilai atau sejenis pula sifatnya!


Ada gula ada semut.. dalam konteks yang luas, di mana ada makanan di situlah makhluk berdatangan. Uni Eropa sekarang tampaknya sedang mengandung banyak gula-gula, kalau orang eropa telah mengenal pepatah di atas, tentunya tak akan terkaget-kaget dan kalang kabut menanggapi berita tentang membanjirnya pengungsi dari afrika utara akibat revolusi yang sedang memenuhi televisi.
Nah kalau ada semut, sebelum naik pohon mangga aku siapkan abu!
Proses panen buah jadi lancar, selancar tergelincirnya semut-semut hitam jatuh karena abu.
....ooh Maanggaa....





Sunday, February 20, 2011

Roda-Roda

Masih di sebuah kampung dekat sungai Elbe, Hamburg yang sangat terkenal dengan FischMarkt-pasar ikannya! Pasar ikan itu buka hanya setiap minggu mulai jam 5 pagi sampai 10 siang. Kata penduduk setempat pasar ikan tersebut menyediakan semua! lazimnya pasar di tanah air, dari ikan yang bau amis, harumnya kopi, alat elektronik, hp sampai pakaian dalam dan kacamata bekas!
Yang paling khas dan menarik para turis dari segala penjuru dunia adalah sisa suasana pasar jaman dulu, walaupun sudah banyak berubah karena aturan kesterilan demi kesehatan!
Suasana wajar pasar yang gaduh riuh-rendah itu sangatlah biasa bagi kita warga negara dunia ketiga, teriakan nyaring para penjual, tawar menawar harga, pas dibungkus!

Primadona di pasar ikan itu adalah ikan Aal! mirip belut tapi besaran dikit..mirip Pelus.
Aku belum sempat dengan mata kepala sendiri menyaksikan atraksi di pasar ikan itu, maklum jam 10 siang baru bisa bangun tidur, mata ini belum bisa diajak kompromi..
Roda kehidupan jalan terus tak mau menunggu sampai aku habis ngopi dan sarapan siang!!

Kecuali para roda sepeda yang diparkir di pagar besi apartemen di kampung ini, yang berbatasan dengan jalan raya yang sepi, entah pemiliknya lupa atau tak peduli lagi.. atau mungkin karena tergopoh-gopoh ke pelabuhan untuk memangsa Aal yang paling murah di seluruh negara bagian jerman ini dan tak kembali lagi, ikut kapal-kapal berbobot mati menuju grünland, atau diculik dan dijadikan budak bajak laut di perairan karibik...entahlah!?

Aku jadi heran kenapa para roda itu tak dijalankan!?
Padahal di sekitar stasiun terlihat banyak pengemis dan peminta-minta, mungkin saja aktifitas menadahkan tangan adalah sebuah pekerjaan yang lebih santai dan menjanjikan!!



Sunday, February 13, 2011

bukan si Angela ting!

CUACA CERAAAAH..
(terpaksa aku sering mengawali tulisanku dengan cuaca, karena sangatlah jarang ditemui cuaca bagus di Jerman, cuaca selalu jadi pokok utama diskusi sepanjang masa di negara ini!)
tak boleh berlalu begitu saja, segera setelah akku kamera penuh, jalan keliling kampung Altona, Hamburg. Di dekat sebuah taman ada tempat parkir sepeda, hari itu minggu, jadi tak ada yang diparkir selain yang satu di atas itu..

Aku jadi ingat seorang kawan, bernama Brimob..brintik mobrak-mabrik!!
dia pernah punya sepeda mirip sekali dengan sepeda yang terparkir di atas,
saking sayangnya, disematkanlah sebuah nama yang asoy geboy.. ..Angela- baca anjela..

Dahulu kala, kita bersama kawan-kawan yang lain, geng Sketser, setiap malam menyusuri romantisnya kota jogja dengan senjata biting atau bambu dan tinta cina, menghajar kertas hvs tanpa ampun! untuk menyicil kewaiban kumpul 500 lembar dalam satu semester.
Uniknya si empunya Angela, alias Brimob tadi, pasti atau sering jadi subjekmatter di lembaran Hvs yang setiap sabtunya dikonsultasikan para dosen sketsa..
aah..ingatan tentang waktu itu datang satu persatu untuk di abadikan, tapi terlalu panjanglah nanti tulisan ini kalau semua di tulis di sini...sabar yaaa...
Akhirnya daripada melebarluas kemana-mana, kembali ke Angela, ujung pangkal nasibnya tak jelas kemana, entah masih dipakai orang, dirosok atau sudah dilebur?!
Sang pemiliknya sendiri tak tahu, begitu dia memutuskan tak balik lagi ke Jogja si Angela ditinggal di kontrakan simbok Giman, yang jadi basekamp geng sketser waktu itu, pernah ada yang bilang kalau si Angela dibawa salah seorang kawan sebagai sarana transportasi dari kosan ke kampus, setelah itu tak jelas lagi... apalagi setelah gempa dashyat menimpa Bantul dan sekitarnya, nasib Angela tak terhiraukan lagi..

Yang jelas si Angela tak bisa tiba-tiba berada di tempat parkir sebuah taman perumahan di Altona....tapi mirip bisa juga!

sm


Tuesday, February 8, 2011

nungging!

ketika matahari sedang baik hati, akan merasa dosa jika tak memanfaatkannya dengan sebaik-baik mungkin, beku musim dingin hampiii..iiir selesai!, hangatnya surya mengajak musim semi untuk segera tampil...
tiba saatnya mereguk nikmat sang bintang yang satu ini, yang di tanah air begitu dibenci, dihindari dan dilupakan, katanya..bikin kulit hitam lah, bisa kena kanker lah, semua begitu percaya nggak akan keren kalau kulit mengandung sifat matahari sedikit saja!!
Industri pun beraksi...membanjirlah produk yang sebetulnya bualan besar!!
mhmm... balik ke sini, negeri 4 musim, matahari datang disambut suka cita..
saking senangnya jumpalitan, mungkin inilah yang telah terjadi pada sepeda di atas..
masih untung lah bedidingtelah berlalu, nungging dulu..ah
sementara tunggu pemulung yang telat datang, terganjal urusan visa..

s.m

Saturday, February 5, 2011

Bencana

lupa mimpi apa semalam
firasat pun tak ada sebelumnya
darisana Nya saja diam-diam
datang pergi berlalu begitu cepatnya
bagai kilat tajam pisau operasi
ruji-ruji berteriak tak berdaya
slebor dan rantai meringis geli
menatap roda depan punya
babak belur potret diri
aah..
sudah nasib tak perlu dendam

Tuesday, January 11, 2011

Menunggu Godot!!

Setiap kali, entah itu karena kereta yang telat atau memang tidak ada jadwal pada jam itu, jalur bis dengan nomor tertentu dari Stasiun yang akan melewati halte bis berikutnya, di mana aku akan turun, untuk ku dapat lebih memperpendek jarak jalan kaki ke rumah, dapat dipastikan jalan kaki dari stasiun merupakan keputusan yang bijaksana, daripada menunggu bis jadwal berikutnya. Yang biasanya 20 menit jedanya tapi kadangkala telat juga! apalagi cuaca musim dingin bersalju yang membuat kacau lalu lintas, para pengendara tak berani jalan seperti biasanya karena resiko kecelakaan yang tinggi dikarenakan jalanan licin!! Berjalan kaki aja orang musti waspada plus ekstra hati-hati!!

Waktu memang sangat relativ!
Waktu 20 menit itu untuk menunggu bis di sini sangat menyiksa!
Mengingat temperatur beku yang menusuk tulang. Terutama kaki, padahal sudah dobel-dobel pakai kauskaki, sepatu yang anti air dus beratnya minta ampyun, tetap saja kalau badan tak dibuat gerak, rasa dingin dengan cepat mencengkeram telapak kaki dan tak mau lepas lagi.
Sedangkan jalan kaki ke rumah dari stasiun tak terlalu lama, hanya memakan waktu 15 menit, lagipula udara musim dingin segar sekali..freshhh!! so badan juga lebih terlatih menangkal segala macam penyakit karena cuaca dingin.
Di tengah perjalanan itu, pikiranku selalu tertarik dengan roda yang sedang parkir, digembok rapi walaupun sudah sedikit penyok pelah-nya, lokasinya di situ terus tak pernah pindah, seperti sedang menunggu sesuatu.
Akan banyak ide cerita tentang asal muasalnya jika ketahuan para pengarang.

Tak terasa sudah hampir setahun, sejak pertama kali aku melihatnya bersender di tempat parkir sepeda yang dulu banyak juga ditemui di kota asalku..klaten.
Berarti juga roda itu telah mengalami 4 kali pergantian musim dalam tahun ini..hebat!!!nggak tahu juga sampai kapan akan bertahan di sana.?
Seandainya situasi roda itu terjadi di kota asalku, para pemulung dengan segera menjemputnya, dengan rayuan kelapa atau pun paksaan!!
sm