
Kembali ke masa lalu,
ketika aku masih lebih sering cokoran, tanpa sepatu berangkat ke sekolah dasar yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Seperti biasa, berangkat ramai-ramai dengan teman sekampung seperjuangan sambil mencoba mengukur bayangan tubuh sendiri yang tertimpa sinar matahari pagi dengan langkah kaki sendiri, absurd!.
Saat itu naik sepeda pun merupakan kemewahan! Jalanan penuh dengan pejalan kaki, terutama yang beraktifitas pada pagi hari, pedagang pasar, kuli, timer, tukang parkir, penjaga sekolah alias tukang kebun, sopir, kernet, penjual bubur, penjual jamu, guru sampai orang kantoran.
Sekolah dimulai jam 7 pagi.
Setiap senin upacara bendera merah putih sudah pasti!
Selasa rabu kamis dan sabtu sebelum masuk kelas senam pagi Indonesia.
Cuma hari jumat sedikit berbeda gerakan dan musiknya, SKJ: senam kesegaran jasmani.
So.. sebelum masuk kelas fisik telah bugar dan fit, siap menampung berondongan ilmu dari para pahlawan tanpa tanda jasa. Sekarang aku jadi berpikir lagi, apakah kegiatan bersenam pagi itu sekedar untuk kesehatan atau memberi kesempatan pada yang telat bangun pagi, karena tak jarang peserta senam pagi itu terlihat masih menyanding tas di samping kaki.
Kalau pada pagi hari itu matahari telah begitu terik walaupun penanda waktu tetap sama saja, suasana kelas sedikit aneh karena aroma keringat menguasai udara yang lembab dalam ruangan, harum amoniak sehabis senam pagi itu seolah tak mau keluar dari 4 jendela kawat jaring yang besar di kanan dan kiri dinding ruangan. Jadi selain mendapat ilmu yang berguna di masa depan kita juga semakin kenal dengan bau-bauan teman sekelas.
Pukul 12.45 adalah jam pulang anak kelas 4 ke atas. Kelas 3 ke bawah boleh pulang lebih pagi.
Pada jam pulang sekolah itu jalanan kembali gegap gempita!. Kali ini berbarengan dengan jam pulang madrasah tsanawiyah yang baru didirikan tak jauh dari SD tempat aku pertama kali mereguk nikmatnya ilmu dasar itu, namun sekolah yang lebih sering disebut MTs itu langsung mendapatkan siswa yang luar biasa banyaknya, entah kenapa aku tak tahu.
Selain banyak yang berjalan kaki, murid MTs yang bersepeda ria tak sedikit pula.
Ada yang sangat menarik perhatian kami dari riuhnya sepeda yang baru saja keluar dari gerbang sekolah, yang setara dengan SLTP itu, adalah seorang murid yang mengayuh sepeda dengan stang dari bambu!! alias lurus dan hijau warnanya.. Sebuah ide yang mungkin saja mengilhami para desainer pit onthel jaman itu. Karena tak lama kemudian heboh di pasaran sepeda, merk federal!! Semua orang, sepanjang ingatanku, bermimpi mempunyai sepeda federal yang ber-stang lurus itu, termasuk aku juga! namun sepeda ber-stang bambu hijau tetap menarik perhatian kami, entah karena iba atau takjub dengan penemuannya itu.
Sampai sekarang pun, ketika selera jaman telah berganti cuaca, aku belum pernah punya sepeda ber-stang lurus itu walaupun pernah menaikinya. Bahkan pernah Tour sepeda berkilo-kilometer bersama kawan-kawan STM ke Waduk Kedung Ombo pulang pergi!!
Jaman telah berubah, sepeda tak lagi menjadi impian lagi.
Model dan desain sepeda pun berkembang dengan pesatnya, namun tetap tak mampu bersaing dengan jenis kendaraan lain, yang tidak kepanasan kalau terik, tetap teduh kalau sedang hujan, tinggal isi bahan bakar, starter tancap gas, mainkan stir, berlari lebih cepat sampai tujuan!!
Kenangan akan bayangan diri dari sinar matahari pagi hari di jalanan aspal yang belum hotmik kala itu, tetap bersemayam dan kembali segar lagi jika mendengar lagu populer kala itu, Jamilah-nya jamal mirdad, yang sempat dulu kami nyanyikan sepotong-potong, di sepanjang jalan menuju sekolah dengan seragam merah putih, ketika mobil yang lewat di jalan itu hanya colt tesen angkutan umum yang bisa dihitung dengan jari.