
Di stasiun atau halte-halte angkutan umum selalu tersedia tempat parkir sepeda tanpa penjaga dan karcisnya, pengendara sepeda harus dengan mandiri, mengunci gembok seaman-amannya, kalau tidak resiko tanggung sendiri. Di tempat-tempat parkir itu tak jarang banyak sepeda yang tak terurus sampai karatan bahkan ada yang sudah tak berbentuk sepeda lagi padahal masih terantai dengan nyamannya. Deretan sepeda yang mengerumuni halte-halte atau stasiun itu mengingatkanku pada peribahasa yang ku jadikan judul tulisan ini.
Selama di Jerman, aku baru pertama kali lihat makhluk yang namanya semut, itu pun di dalam kandang, kotak kaca di kebun binatang. Boks itu mirip akuarium ditempel di dinding dengan liku-liku rumah semut, yang dibuat mirip dengan aslinya. Orang sini sepertinya tidak bisa membayangkan betapa repotnya punya semut dalam kehidupan sehari-hari, mereka memandangi dengan takjub binatang sosial yang menyebalkan sekali! apalagi kalau kita sedang dikaruniai gigitan semut geni alias api!... wah racunnya tak jauh dari racun kalajengking!!
Sifat gotong-royong binatang inilah yang membuat kita pun tak pelak mengagumi binatang ini, ...dulu waktu SD, aku dan kawan-kawan menamai kelompok kami dalam kegiatan pramuka setiap jumat sore dengan Kelompok Semut dan beruntung ada yang jual benderanya.
Selama di sini pula aku belum merasakan dan menemui sifat yang dicontohkan binatang dalam kotak kaca itu pada manusianya. Mungkin dulu pernah ada semut di sini, tapi kemudian hijrah ke selatan menumpang kapal-kapal pedagang rempah-rempah dan tak pernah pergi lagi, di sebuah lingkungan yang tampaknya lebih mampu menggali nilai-nilai atau sejenis pula sifatnya!
Ada gula ada semut.. dalam konteks yang luas, di mana ada makanan di situlah makhluk berdatangan. Uni Eropa sekarang tampaknya sedang mengandung banyak gula-gula, kalau orang eropa telah mengenal pepatah di atas, tentunya tak akan terkaget-kaget dan kalang kabut menanggapi berita tentang membanjirnya pengungsi dari afrika utara akibat revolusi yang sedang memenuhi televisi.
Nah kalau ada semut, sebelum naik pohon mangga aku siapkan abu!
Proses panen buah jadi lancar, selancar tergelincirnya semut-semut hitam jatuh karena abu.
....ooh Maanggaa....

No comments:
Post a Comment