Saturday, February 26, 2011

Kebelet!

Sebagai orang yang dibesarkan di kampung, aku sudah terbiasa harus jongkok kalau buang air besar. Sangatlah lumrah apalagi semasa kecil yang namanya kloset jongkok pun teramat sangat istimewa, jadi untuk bisa jongkok di atas toilet pun merasa lebih modern daripada yang lain. Sebagian besar penghuni kampung kecilku jaman dulu buang air besar masih di sungai yang berhulu di sebuah sumber air yang bernama Tegaron, terutama di pintu airnya langsung. Belik atau Blumbang yang dulu berair jernih itu letaknya di samping pesarean, berada di tengah 4 kampung dengan pohon yang sangatlah besar sebagai penjaga, sangat besar dan mengerikan dengan akar-akar semak belukar yang singup! apalagi untuk ukuran anak kecil, aku dan sebaya waktu itu.
Pekuburan di atas Tegaron itu di bagi 3 bagian untuk masing-masing kampung yang mengelilinginya. Tapi entah kenapa, ini yang nanti akan aku cari sebabnya, kampung di mana aku lahir, walaupun juga berbatasan dengan Pekuburan itu, punya lokasi pekuburan sendiri yang agak jauh, tidak ikut berbagi dengan pekuburan setempat.
Suatu ketika, aku belum sekolah atau awal sekolah dasar, ketika di depan pintu masuk kuburan bagian kampung lain di bangun atau tepatnya di taruh patung batu yang biasa sebagai penjaga candi, yaitu arca Gupala, suasana pekuburan yang seram semakin mengerikan saja untuk kami waktu itu, apalagi ketika ada yang bilang pada aku dan teman sebaya yang masih suka teriak-teriak ramai, bahwa kalau sedang di dekat patung itu tidak boleh ramai. Karena kalau patung Gupala tadi bisa mendengar suara kami, pasti akan tanpa ampun menggunakan senjata pentungan Gadha yang selalu disandangnya, untuk mendiamkan kami selamanya....hiii makin ngeri lagi jika melihat putih kapur pada mata yang melotot, kontras dengan warna hitam legam material patung itu. Itu pun masih dibumbui dengan semerbak harumnya mawar, yang setiap malam jumat kliwon selalu fresh! entah siapa yang taruh bunga sialan itu, aku pun tak berani tanya-tanya lagi alias selalu waspada menjaga mulut kecil bawel yang sembrono jika berada di tempat biasa.
Selain cerita tentang kakek buyutku yang meninggal tenggelam atau menenggelamkan diri(?) di Blumbang Tegaron itu, masih banyak sekali cerita mistis yang beredar dan masuk telingaku, tak aral segera saja memancing rajutan fantasi di otak kecilku waktu itu.
Ah ..singkat kata, jika berada di tempat itu, tempat yang setiap pagi selalu ramai orang antri mau pakai kakus pintu air yang mengalir deras melalu lobang-lobang kecil saringan agar ganggang dan ikan dan ikut terbawa arus, tempat yang berpohon rindang, udara dingin semilir dengan sedikit pedut/kabut sisa dini hari, yang kalau siang menjelang sore sepi adalah antara penuh tanya, takut, belajar sabar, dan bahagia!
Sangat senang alang kepalang, apalagi jika sedang menunggu suara Dul!
Adalah tembakan petasan dari mesjid raya di kota yang menandakan waktu berbuka puasa! Asap hitam yang mengepul membumbung di atas horison hijau pudar pohon-pohon, yang disaksikan oleh orang-orang dewasa, karena sampai sekarang pun aku belum bisa yakin, apakah dulu aku pernah lihat tanda Dul itu atau pula telah mendengarnya.. Yang pasti aku pun ikut berteriak senang, berlari menuju rumah, menyambut menu buka puasa, ketika para orang dewasa berseru-seru sambil menunjuk-nunjuk ke arah kota, seolah mendengar dan melihat tanda Dul itu..
Lari untuk mengisi perut sangat berbeda dengan yang diceritakan foto diatas!
Si pengendara mobil tampak buru-buru, karena kalau tak segera bisa-bisa di celana!
Orang itu mau tidak mau harus mencari toilet khusus, yang sangat jauuuh, yang nanti bisa dijongkoki atau minimal ada air untuk membasuh anus setelah selesai berhajat. Untuk orang lebih modern kayuhan pedal pun tak memenuhi syarat lagi untuk dapat dengan segera mencapai tempat yang diimpikan, so alhasil sepeda onthelnya ditinggal sendirian. Naik mesin tinggal injak gas, dua tiga kilometer terlampaui dengan menyisakan kebulan asap di belakang, tak urusan!.
Dasar orang kampung!
Mungkin begitu pikir orang-orang yang paling modern, yang telah terbiasa duduk santai sambil baca-baca kalau sedang buang air besar, tak perlu air, hanya dengan gulungan kertas toilet putih lembut bertumpuk-tumpuk, yang dengan setia menunggu untuk disobek dan dihancurkan di dalam kloset. Asal tahu saja kertas toilet itu sebagian besar dari pembabatan hutan negara tropis!
Huh...!! Biar primitiv asal umweltfreundlich, pikirku.

No comments:

Post a Comment