Wednesday, March 9, 2011

Habis Manis Sepah Dibuang!

Akulah yang pertama kali mengantarmu keliling taman
menikmati udara segar dan pemandangan
melatih otot betis sepanjang kayuhan
tubuh jadi fit dan para penyakit tak mempan menyerang
meskipun aku harus sering dilap sayang
supaya kotoran debu dan penampilan tetap tampan
tapi apa arti awak kemudian
setelah kamu bosan
tak ada lagi perhatian apalagi dimandikan
aku pun protes dengan harapan
akan dirawat seperti tahun-tahun silam
debu menumpuk karat menggerogoti pelan-pelan
aku tak bisa lagi berfungsi sesuai angan-angan
apalagi setelah kamu mabuk membawaku masuk selokan
kamu tinggalkan begitu saja, dasar bajingan!

Sunday, March 6, 2011

Kalah Bersaing!

Kembali ke masa lalu,
ketika aku masih lebih sering cokoran, tanpa sepatu berangkat ke sekolah dasar yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Seperti biasa, berangkat ramai-ramai dengan teman sekampung seperjuangan sambil mencoba mengukur bayangan tubuh sendiri yang tertimpa sinar matahari pagi dengan langkah kaki sendiri, absurd!.

Saat itu naik sepeda pun merupakan kemewahan! Jalanan penuh dengan pejalan kaki, terutama yang beraktifitas pada pagi hari, pedagang pasar, kuli, timer, tukang parkir, penjaga sekolah alias tukang kebun, sopir, kernet, penjual bubur, penjual jamu, guru sampai orang kantoran.
Sekolah dimulai jam 7 pagi.
Setiap senin upacara bendera merah putih sudah pasti!
Selasa rabu kamis dan sabtu sebelum masuk kelas senam pagi Indonesia.
Cuma hari jumat sedikit berbeda gerakan dan musiknya, SKJ: senam kesegaran jasmani.
So.. sebelum masuk kelas fisik telah bugar dan fit, siap menampung berondongan ilmu dari para pahlawan tanpa tanda jasa. Sekarang aku jadi berpikir lagi, apakah kegiatan bersenam pagi itu sekedar untuk kesehatan atau memberi kesempatan pada yang telat bangun pagi, karena tak jarang peserta senam pagi itu terlihat masih menyanding tas di samping kaki.

Kalau pada pagi hari itu matahari telah begitu terik walaupun penanda waktu tetap sama saja, suasana kelas sedikit aneh karena aroma keringat menguasai udara yang lembab dalam ruangan, harum amoniak sehabis senam pagi itu seolah tak mau keluar dari 4 jendela kawat jaring yang besar di kanan dan kiri dinding ruangan. Jadi selain mendapat ilmu yang berguna di masa depan kita juga semakin kenal dengan bau-bauan teman sekelas.

Pukul 12.45 adalah jam pulang anak kelas 4 ke atas. Kelas 3 ke bawah boleh pulang lebih pagi.
Pada jam pulang sekolah itu jalanan kembali gegap gempita!. Kali ini berbarengan dengan jam pulang madrasah tsanawiyah yang baru didirikan tak jauh dari SD tempat aku pertama kali mereguk nikmatnya ilmu dasar itu, namun sekolah yang lebih sering disebut MTs itu langsung mendapatkan siswa yang luar biasa banyaknya, entah kenapa aku tak tahu.

Selain banyak yang berjalan kaki, murid MTs yang bersepeda ria tak sedikit pula.
Ada yang sangat menarik perhatian kami dari riuhnya sepeda yang baru saja keluar dari gerbang sekolah, yang setara dengan SLTP itu, adalah seorang murid yang mengayuh sepeda dengan stang dari bambu!! alias lurus dan hijau warnanya.. Sebuah ide yang mungkin saja mengilhami para desainer pit onthel jaman itu. Karena tak lama kemudian heboh di pasaran sepeda, merk federal!! Semua orang, sepanjang ingatanku, bermimpi mempunyai sepeda federal yang ber-stang lurus itu, termasuk aku juga! namun sepeda ber-stang bambu hijau tetap menarik perhatian kami, entah karena iba atau takjub dengan penemuannya itu.

Sampai sekarang pun, ketika selera jaman telah berganti cuaca, aku belum pernah punya sepeda ber-stang lurus itu walaupun pernah menaikinya. Bahkan pernah Tour sepeda berkilo-kilometer bersama kawan-kawan STM ke Waduk Kedung Ombo pulang pergi!!

Jaman telah berubah, sepeda tak lagi menjadi impian lagi.
Model dan desain sepeda pun berkembang dengan pesatnya, namun tetap tak mampu bersaing dengan jenis kendaraan lain, yang tidak kepanasan kalau terik, tetap teduh kalau sedang hujan, tinggal isi bahan bakar, starter tancap gas, mainkan stir, berlari lebih cepat sampai tujuan!!
Kenangan akan bayangan diri dari sinar matahari pagi hari di jalanan aspal yang belum hotmik kala itu, tetap bersemayam dan kembali segar lagi jika mendengar lagu populer kala itu, Jamilah-nya jamal mirdad, yang sempat dulu kami nyanyikan sepotong-potong, di sepanjang jalan menuju sekolah dengan seragam merah putih, ketika mobil yang lewat di jalan itu hanya colt tesen angkutan umum yang bisa dihitung dengan jari.

Tuesday, March 1, 2011

Tak Merdeka 100%

Suatu ketika aku harus mendatangi tempat itu, yang seumur-umur pun belum pernah aku membayangkan akan memasukinya, selain nggak penting, juga untuk apa?
Beberapa hari yang lampau, seorang teman sekolah mengundangku ikut merayakan pesta perpisahannya di tempat yang sebelumnya tidak ada dalam agenda resmiku ini.
Selesai sekolah meluncurlah aku dengan pelan menuju sasaran, karena waktu yang ditetapkan masih 1 jam ke depan. Ku habiskan waktuku dengan mengamati daerah sekitar tempat itu, jalan mondar-mandir apakah benar tempat itu yang di maksud.
Sebuah halaman luas dengan pohon-pohon besar rindang nian, tapi sementara ini tak berdaun, dan banyak meja panjang yang diatasnya ditumpuki kursi panjang juga yang terbalik, alias tidak sedang dalam tugas!
Ku lirik jam di handphone masih setengah jam lagi, aku duduk di kursi besi yang masih tersisa di depan bangunan itu, kebanyakan kursi-kursi itu untuk para perokok, ada meja juga, di atasnya beberapa asbak dengan abu tembakau yang tercecer di sekitarnya. Para perokok kalau mau membakar tembakaunya mulai beberapa minggu kemarin harus di luar bangunan itu, kalau tidak mau terkena denda yang tak sedikit.
Aku keluar lagi...
Di luar halaman berpagar besi yang tinggi, sebuah sepeda federal (istilah yang menandakan kalau stangnya lurus) sedang terikat rapi, seperti budak yang tak laku. Roda depannya seperti habis kecelakaan, tapi kenapa harus dirantai di situ?kenapa tidak langsung dimasukkan di tempat sampah kalau memang tak berguna lagi?
Mungkin empunya adalah pengunjung tempat itu, setelah selesai urusan, mau pulang ternyata tak bisa lurus lagi untuk kayuh pedal, terperosok atau terjungkal lah pemilik sepeda itu sebelum jauh meninggalkan tempat itu. Tak lama setelah ada orang yang baik hati atau teman empunya federal menelpon ambulans dan membawanya ke rumah sakit terdekat, sepeda federal yang baru merasakan kebebasan sebentar, kembali disangkutkan di pagar seperti sebelum sang pemilik memasuki tempat itu, apalagi memang tak bisa buat jalan.
Setelah kembali sepi, sepeda itu rupanya ingin jalan-jalan seperti yang lainnya agar tak beku sendirian, tapi apa daya roda terantai. Sampai akhirnya si sadel saja yang berhasil bebas. Proses kemerdekaan yang tak sulit, hanya mengendorkan baut dan sekrup sedikit saja, kemudian memutarnya ke arah atas.. tuntas, walau pun tak merdeka 100%, dengan kata lain cuma 5 persen kira-kira dari keseluruhan, si sepeda federal tentunya gembira apalagi yang telah berani memerdekakannya...

Sementara nasibku masih terikat dengan waktu yang masih setengah jam lagi di tempat itu, tak bosan-bosannya ku melangkah keluar lagi, berjalan kesana kemari, menghalau udara dingin, mirip seterika otomatis!

Semende

Masih di pinggiran lapangan theresienwiese yang penuh dengan pohon-pohon dengan jalan berpaving de tengahnya untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. Di situ terdapat berbagai macam fasilitas bermain, mulai dari meja pingpong bagi yang suka olahraga, selain itu berlari mengelilingi lapangan juga boleh! sampai ada ayunan yang stabil, aman untuk anak-anak dan dewasa, juga terdapat kolam pasir, plorotan, mirip yang biasa terdapat di taman kanak-kanak. Selain itu tak terhitung banyaknya bangku dan meja permanen, yang biasa di pakai para pekerja kantoran di sekitar situ untuk istirahat menyantap menu siangnya dalam suasana sejuk segar di bawah rindangnya daun-daun, kalau tidak sedang musim gugur apalagi dingin!!

Kalau sedang musim panas bangku-bangku itu kadang menjadi tempat tidur para gelandangan, heh.. ada juga gelandangan di münchen?!. Biasanya para gelandangan itu adalah para peminum alkohol dan pengangguran. Mereka itu tidur di jalan, katanya sudah tidak mau lagi tinggal di rumah penampungan yang telah disediakan oleh pemerintah kota. Mungkin inilah juga salah satu sebab betapa repot pemerintah kita mengurus para Gepeng, lha di negara kita tak ada cuaca yang ekstrim! Ketika sedang dingin-dinginnya suhu musim dingin di eropa, tak jarang di sini terdengar berita tentang para gelandangan yang mati beku! ..banyak yang karena ketiduran di luar ketika terlalu mabuk tanpa selimut cukup memadai...hii..
Temperatur di tanah air rata-rata hanya 27 derajat celcius, adalah ideal untuk makhluk hidup! So.. kapan dan di mana saja orang bisa tidur dengan nyaman walau pun hanya di perko atau di kolong jembatan.
Singkat kata menjadi gelandangan selain karena masalah yang kompleks adalah juga sebuah pilihan. Jangan lupa ini jaman demokrasi bung..
Begitu juga yang mungkin terpikir oleh pemilik sepeda di atas, adalah haknya juga menaruh barangnya di sembarang tempat, kemudian melupakannya...