Suatu ketika aku harus mendatangi tempat itu, yang seumur-umur pun belum pernah aku membayangkan akan memasukinya, selain nggak penting, juga untuk apa?Beberapa hari yang lampau, seorang teman sekolah mengundangku ikut merayakan pesta perpisahannya di tempat yang sebelumnya tidak ada dalam agenda resmiku ini.
Selesai sekolah meluncurlah aku dengan pelan menuju sasaran, karena waktu yang ditetapkan masih 1 jam ke depan. Ku habiskan waktuku dengan mengamati daerah sekitar tempat itu, jalan mondar-mandir apakah benar tempat itu yang di maksud.
Sebuah halaman luas dengan pohon-pohon besar rindang nian, tapi sementara ini tak berdaun, dan banyak meja panjang yang diatasnya ditumpuki kursi panjang juga yang terbalik, alias tidak sedang dalam tugas!
Ku lirik jam di handphone masih setengah jam lagi, aku duduk di kursi besi yang masih tersisa di depan bangunan itu, kebanyakan kursi-kursi itu untuk para perokok, ada meja juga, di atasnya beberapa asbak dengan abu tembakau yang tercecer di sekitarnya. Para perokok kalau mau membakar tembakaunya mulai beberapa minggu kemarin harus di luar bangunan itu, kalau tidak mau terkena denda yang tak sedikit.
Aku keluar lagi...
Di luar halaman berpagar besi yang tinggi, sebuah sepeda federal (istilah yang menandakan kalau stangnya lurus) sedang terikat rapi, seperti budak yang tak laku. Roda depannya seperti habis kecelakaan, tapi kenapa harus dirantai di situ?kenapa tidak langsung dimasukkan di tempat sampah kalau memang tak berguna lagi?
Mungkin empunya adalah pengunjung tempat itu, setelah selesai urusan, mau pulang ternyata tak bisa lurus lagi untuk kayuh pedal, terperosok atau terjungkal lah pemilik sepeda itu sebelum jauh meninggalkan tempat itu. Tak lama setelah ada orang yang baik hati atau teman empunya federal menelpon ambulans dan membawanya ke rumah sakit terdekat, sepeda federal yang baru merasakan kebebasan sebentar, kembali disangkutkan di pagar seperti sebelum sang pemilik memasuki tempat itu, apalagi memang tak bisa buat jalan.
Setelah kembali sepi, sepeda itu rupanya ingin jalan-jalan seperti yang lainnya agar tak beku sendirian, tapi apa daya roda terantai. Sampai akhirnya si sadel saja yang berhasil bebas. Proses kemerdekaan yang tak sulit, hanya mengendorkan baut dan sekrup sedikit saja, kemudian memutarnya ke arah atas.. tuntas, walau pun tak merdeka 100%, dengan kata lain cuma 5 persen kira-kira dari keseluruhan, si sepeda federal tentunya gembira apalagi yang telah berani memerdekakannya...
Sementara nasibku masih terikat dengan waktu yang masih setengah jam lagi di tempat itu, tak bosan-bosannya ku melangkah keluar lagi, berjalan kesana kemari, menghalau udara dingin, mirip seterika otomatis!
No comments:
Post a Comment