Sunday, February 27, 2011

Sisa-sisa pesta!

Pemandangan musim gugur, daun-daun menguning rontok meninggalkan batang pohon sendiri yang mengkerut menghitam di sekeliling lapangan itu menambah kelabu suasana mengahadapi kejamnya musim dingin. Setiap tahun selama 2 minggu sebelum bulan oktober di lapangan itu, Theresienwiese, kota münchen diadakan Oktober Fest, pesta bir dan pasar malam, lengkap dengan jinontrol, tong setan, arumanis, gula-gula dsb.
Tahun 2010 kemarin adalah tepat yang ke 200 kali acara itu di adakan! sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melegenda, di mana pada awalnya dulu adalah sebuah pesta perkawinan si anak kaisar, yang ketika itu bir dibagikan gratis, namanya aja pesta pora.
Namun sekarang siapa yang mau minum bir di oktober fest begitu namanya disebut selain wiesn istilah lainnya, harus siap-siap merogoh kocek yang cukup dalam. Katanya bir di acara itu berbeda dengan bir biasa, yang telah disiapkan khusus dengan kualitas terbaik dengan kandungan alkohol tinggi dan langsung dibeli di tenda-tenda permanen anjungan para pabrik bir!

Sebulan setelah acara, aku kebetulan lewat lagi lapangan itu terlihat orang-orang masih sibuk beres-beres, para pekerja seperti tak mau selesaikan tugasnya, padahal tiap hari dengan bantuan alat berat telah berusaha secepat mungkin..cak cak cak... kerjaan tak berkurang-kurang! Gilaa...acaranya cuma 2 minggu tapi secara keseluruhan 4 bulan diperlukan untuk siap-siap dan bongkar-bongkar bahkan mungkin lebih!!

Adalah kenangan memegang gelas bir 1 liter dan khasiat minuman itu langsung nendang kepala rasanya jika beberapa teguk saja melewati tenggorokan! kemudian para pelayan yang memakai baju tradisional driendl bertangan kuat kokoh yang mampu membawa sampai 12 gelas bir beserta isinya bahkan lebih! ada kontes khusus untuk itu... berlalu lalang di tengah riuhnya pesta pora, mabuk dan tak sadar diri merupakan pemandangan biasa, apalagi menginjak makanan yang telah mengasam yang barusan dimuntahkan di sekitar arena.. Untuk itu para petugas P3K dan kebersihan yang berseragam menyolok selalu siap sedia dengan armada ambulansnya!
Ingatan sisa-sisa pesta 2 minggu sebelum bulan oktober itu, terwakili secara gamblang pada nasib sepeda federal di pinggiran lapangan theresienwiese yang kembali sepi, setelah tiba-tiba 5 juta pengunjung pulang, telah puas bersumpah serapah dalam nyanyian tahun ini dan siap-siap kerja keras lagi, menabung untuk pesta pora tahun berikutnya!

Saturday, February 26, 2011

Kebelet!

Sebagai orang yang dibesarkan di kampung, aku sudah terbiasa harus jongkok kalau buang air besar. Sangatlah lumrah apalagi semasa kecil yang namanya kloset jongkok pun teramat sangat istimewa, jadi untuk bisa jongkok di atas toilet pun merasa lebih modern daripada yang lain. Sebagian besar penghuni kampung kecilku jaman dulu buang air besar masih di sungai yang berhulu di sebuah sumber air yang bernama Tegaron, terutama di pintu airnya langsung. Belik atau Blumbang yang dulu berair jernih itu letaknya di samping pesarean, berada di tengah 4 kampung dengan pohon yang sangatlah besar sebagai penjaga, sangat besar dan mengerikan dengan akar-akar semak belukar yang singup! apalagi untuk ukuran anak kecil, aku dan sebaya waktu itu.
Pekuburan di atas Tegaron itu di bagi 3 bagian untuk masing-masing kampung yang mengelilinginya. Tapi entah kenapa, ini yang nanti akan aku cari sebabnya, kampung di mana aku lahir, walaupun juga berbatasan dengan Pekuburan itu, punya lokasi pekuburan sendiri yang agak jauh, tidak ikut berbagi dengan pekuburan setempat.
Suatu ketika, aku belum sekolah atau awal sekolah dasar, ketika di depan pintu masuk kuburan bagian kampung lain di bangun atau tepatnya di taruh patung batu yang biasa sebagai penjaga candi, yaitu arca Gupala, suasana pekuburan yang seram semakin mengerikan saja untuk kami waktu itu, apalagi ketika ada yang bilang pada aku dan teman sebaya yang masih suka teriak-teriak ramai, bahwa kalau sedang di dekat patung itu tidak boleh ramai. Karena kalau patung Gupala tadi bisa mendengar suara kami, pasti akan tanpa ampun menggunakan senjata pentungan Gadha yang selalu disandangnya, untuk mendiamkan kami selamanya....hiii makin ngeri lagi jika melihat putih kapur pada mata yang melotot, kontras dengan warna hitam legam material patung itu. Itu pun masih dibumbui dengan semerbak harumnya mawar, yang setiap malam jumat kliwon selalu fresh! entah siapa yang taruh bunga sialan itu, aku pun tak berani tanya-tanya lagi alias selalu waspada menjaga mulut kecil bawel yang sembrono jika berada di tempat biasa.
Selain cerita tentang kakek buyutku yang meninggal tenggelam atau menenggelamkan diri(?) di Blumbang Tegaron itu, masih banyak sekali cerita mistis yang beredar dan masuk telingaku, tak aral segera saja memancing rajutan fantasi di otak kecilku waktu itu.
Ah ..singkat kata, jika berada di tempat itu, tempat yang setiap pagi selalu ramai orang antri mau pakai kakus pintu air yang mengalir deras melalu lobang-lobang kecil saringan agar ganggang dan ikan dan ikut terbawa arus, tempat yang berpohon rindang, udara dingin semilir dengan sedikit pedut/kabut sisa dini hari, yang kalau siang menjelang sore sepi adalah antara penuh tanya, takut, belajar sabar, dan bahagia!
Sangat senang alang kepalang, apalagi jika sedang menunggu suara Dul!
Adalah tembakan petasan dari mesjid raya di kota yang menandakan waktu berbuka puasa! Asap hitam yang mengepul membumbung di atas horison hijau pudar pohon-pohon, yang disaksikan oleh orang-orang dewasa, karena sampai sekarang pun aku belum bisa yakin, apakah dulu aku pernah lihat tanda Dul itu atau pula telah mendengarnya.. Yang pasti aku pun ikut berteriak senang, berlari menuju rumah, menyambut menu buka puasa, ketika para orang dewasa berseru-seru sambil menunjuk-nunjuk ke arah kota, seolah mendengar dan melihat tanda Dul itu..
Lari untuk mengisi perut sangat berbeda dengan yang diceritakan foto diatas!
Si pengendara mobil tampak buru-buru, karena kalau tak segera bisa-bisa di celana!
Orang itu mau tidak mau harus mencari toilet khusus, yang sangat jauuuh, yang nanti bisa dijongkoki atau minimal ada air untuk membasuh anus setelah selesai berhajat. Untuk orang lebih modern kayuhan pedal pun tak memenuhi syarat lagi untuk dapat dengan segera mencapai tempat yang diimpikan, so alhasil sepeda onthelnya ditinggal sendirian. Naik mesin tinggal injak gas, dua tiga kilometer terlampaui dengan menyisakan kebulan asap di belakang, tak urusan!.
Dasar orang kampung!
Mungkin begitu pikir orang-orang yang paling modern, yang telah terbiasa duduk santai sambil baca-baca kalau sedang buang air besar, tak perlu air, hanya dengan gulungan kertas toilet putih lembut bertumpuk-tumpuk, yang dengan setia menunggu untuk disobek dan dihancurkan di dalam kloset. Asal tahu saja kertas toilet itu sebagian besar dari pembabatan hutan negara tropis!
Huh...!! Biar primitiv asal umweltfreundlich, pikirku.

Monday, February 21, 2011

Ada gula ada semut..


Di stasiun atau halte-halte angkutan umum selalu tersedia tempat parkir sepeda tanpa penjaga dan karcisnya, pengendara sepeda harus dengan mandiri, mengunci gembok seaman-amannya, kalau tidak resiko tanggung sendiri. Di tempat-tempat parkir itu tak jarang banyak sepeda yang tak terurus sampai karatan bahkan ada yang sudah tak berbentuk sepeda lagi padahal masih terantai dengan nyamannya. Deretan sepeda yang mengerumuni halte-halte atau stasiun itu mengingatkanku pada peribahasa yang ku jadikan judul tulisan ini.
Selama di Jerman, aku baru pertama kali lihat makhluk yang namanya semut, itu pun di dalam kandang, kotak kaca di kebun binatang. Boks itu mirip akuarium ditempel di dinding dengan liku-liku rumah semut, yang dibuat mirip dengan aslinya. Orang sini sepertinya tidak bisa membayangkan betapa repotnya punya semut dalam kehidupan sehari-hari, mereka memandangi dengan takjub binatang sosial yang menyebalkan sekali! apalagi kalau kita sedang dikaruniai gigitan semut geni alias api!... wah racunnya tak jauh dari racun kalajengking!!

Sifat gotong-royong binatang inilah yang membuat kita pun tak pelak mengagumi binatang ini, ...dulu waktu SD, aku dan kawan-kawan menamai kelompok kami dalam kegiatan pramuka setiap jumat sore dengan Kelompok Semut dan beruntung ada yang jual benderanya.
Selama di sini pula aku belum merasakan dan menemui sifat yang dicontohkan binatang dalam kotak kaca itu pada manusianya. Mungkin dulu pernah ada semut di sini, tapi kemudian hijrah ke selatan menumpang kapal-kapal pedagang rempah-rempah dan tak pernah pergi lagi, di sebuah lingkungan yang tampaknya lebih mampu menggali nilai-nilai atau sejenis pula sifatnya!


Ada gula ada semut.. dalam konteks yang luas, di mana ada makanan di situlah makhluk berdatangan. Uni Eropa sekarang tampaknya sedang mengandung banyak gula-gula, kalau orang eropa telah mengenal pepatah di atas, tentunya tak akan terkaget-kaget dan kalang kabut menanggapi berita tentang membanjirnya pengungsi dari afrika utara akibat revolusi yang sedang memenuhi televisi.
Nah kalau ada semut, sebelum naik pohon mangga aku siapkan abu!
Proses panen buah jadi lancar, selancar tergelincirnya semut-semut hitam jatuh karena abu.
....ooh Maanggaa....





Sunday, February 20, 2011

Roda-Roda

Masih di sebuah kampung dekat sungai Elbe, Hamburg yang sangat terkenal dengan FischMarkt-pasar ikannya! Pasar ikan itu buka hanya setiap minggu mulai jam 5 pagi sampai 10 siang. Kata penduduk setempat pasar ikan tersebut menyediakan semua! lazimnya pasar di tanah air, dari ikan yang bau amis, harumnya kopi, alat elektronik, hp sampai pakaian dalam dan kacamata bekas!
Yang paling khas dan menarik para turis dari segala penjuru dunia adalah sisa suasana pasar jaman dulu, walaupun sudah banyak berubah karena aturan kesterilan demi kesehatan!
Suasana wajar pasar yang gaduh riuh-rendah itu sangatlah biasa bagi kita warga negara dunia ketiga, teriakan nyaring para penjual, tawar menawar harga, pas dibungkus!

Primadona di pasar ikan itu adalah ikan Aal! mirip belut tapi besaran dikit..mirip Pelus.
Aku belum sempat dengan mata kepala sendiri menyaksikan atraksi di pasar ikan itu, maklum jam 10 siang baru bisa bangun tidur, mata ini belum bisa diajak kompromi..
Roda kehidupan jalan terus tak mau menunggu sampai aku habis ngopi dan sarapan siang!!

Kecuali para roda sepeda yang diparkir di pagar besi apartemen di kampung ini, yang berbatasan dengan jalan raya yang sepi, entah pemiliknya lupa atau tak peduli lagi.. atau mungkin karena tergopoh-gopoh ke pelabuhan untuk memangsa Aal yang paling murah di seluruh negara bagian jerman ini dan tak kembali lagi, ikut kapal-kapal berbobot mati menuju grünland, atau diculik dan dijadikan budak bajak laut di perairan karibik...entahlah!?

Aku jadi heran kenapa para roda itu tak dijalankan!?
Padahal di sekitar stasiun terlihat banyak pengemis dan peminta-minta, mungkin saja aktifitas menadahkan tangan adalah sebuah pekerjaan yang lebih santai dan menjanjikan!!



Sunday, February 13, 2011

bukan si Angela ting!

CUACA CERAAAAH..
(terpaksa aku sering mengawali tulisanku dengan cuaca, karena sangatlah jarang ditemui cuaca bagus di Jerman, cuaca selalu jadi pokok utama diskusi sepanjang masa di negara ini!)
tak boleh berlalu begitu saja, segera setelah akku kamera penuh, jalan keliling kampung Altona, Hamburg. Di dekat sebuah taman ada tempat parkir sepeda, hari itu minggu, jadi tak ada yang diparkir selain yang satu di atas itu..

Aku jadi ingat seorang kawan, bernama Brimob..brintik mobrak-mabrik!!
dia pernah punya sepeda mirip sekali dengan sepeda yang terparkir di atas,
saking sayangnya, disematkanlah sebuah nama yang asoy geboy.. ..Angela- baca anjela..

Dahulu kala, kita bersama kawan-kawan yang lain, geng Sketser, setiap malam menyusuri romantisnya kota jogja dengan senjata biting atau bambu dan tinta cina, menghajar kertas hvs tanpa ampun! untuk menyicil kewaiban kumpul 500 lembar dalam satu semester.
Uniknya si empunya Angela, alias Brimob tadi, pasti atau sering jadi subjekmatter di lembaran Hvs yang setiap sabtunya dikonsultasikan para dosen sketsa..
aah..ingatan tentang waktu itu datang satu persatu untuk di abadikan, tapi terlalu panjanglah nanti tulisan ini kalau semua di tulis di sini...sabar yaaa...
Akhirnya daripada melebarluas kemana-mana, kembali ke Angela, ujung pangkal nasibnya tak jelas kemana, entah masih dipakai orang, dirosok atau sudah dilebur?!
Sang pemiliknya sendiri tak tahu, begitu dia memutuskan tak balik lagi ke Jogja si Angela ditinggal di kontrakan simbok Giman, yang jadi basekamp geng sketser waktu itu, pernah ada yang bilang kalau si Angela dibawa salah seorang kawan sebagai sarana transportasi dari kosan ke kampus, setelah itu tak jelas lagi... apalagi setelah gempa dashyat menimpa Bantul dan sekitarnya, nasib Angela tak terhiraukan lagi..

Yang jelas si Angela tak bisa tiba-tiba berada di tempat parkir sebuah taman perumahan di Altona....tapi mirip bisa juga!

sm


Tuesday, February 8, 2011

nungging!

ketika matahari sedang baik hati, akan merasa dosa jika tak memanfaatkannya dengan sebaik-baik mungkin, beku musim dingin hampiii..iiir selesai!, hangatnya surya mengajak musim semi untuk segera tampil...
tiba saatnya mereguk nikmat sang bintang yang satu ini, yang di tanah air begitu dibenci, dihindari dan dilupakan, katanya..bikin kulit hitam lah, bisa kena kanker lah, semua begitu percaya nggak akan keren kalau kulit mengandung sifat matahari sedikit saja!!
Industri pun beraksi...membanjirlah produk yang sebetulnya bualan besar!!
mhmm... balik ke sini, negeri 4 musim, matahari datang disambut suka cita..
saking senangnya jumpalitan, mungkin inilah yang telah terjadi pada sepeda di atas..
masih untung lah bedidingtelah berlalu, nungging dulu..ah
sementara tunggu pemulung yang telat datang, terganjal urusan visa..

s.m

Saturday, February 5, 2011

Bencana

lupa mimpi apa semalam
firasat pun tak ada sebelumnya
darisana Nya saja diam-diam
datang pergi berlalu begitu cepatnya
bagai kilat tajam pisau operasi
ruji-ruji berteriak tak berdaya
slebor dan rantai meringis geli
menatap roda depan punya
babak belur potret diri
aah..
sudah nasib tak perlu dendam